Paradigma Pendidikan di Perguruan Tinggi

Kontributor: Akhmad Sabarudin (Okayama) | 2010-02-14 | Pendidikan

universitasTerkejut juga ketika seorang teman, satu alumni dengan saya, menyindir para dosen yang telah mengajarnya ketika dia belajar di perguruan tinggi. Teman tersebut mengatakan bahwa dosen-dosen seperti sekarang ini yang telah direkrut dari muda dan tanpa pengalaman matang dalam dunia industri kemudian di-upgrade secara akademik dengan post graduate, dalam kuliahnya cuma jadi pembaca buku dan menyuarakan isi buku tanpa tahu aplikasi yang sesungguhnya. Sebagai staff pengajar yunior di salah satu perguruan tinggi, saya merasa tertohok juga dengan ucapan teman tersebut. Namun saya menyadari bahwa mungkin memang demikianlah kondisi di universitas saya dan mungkin juga sebagian besar perguruan tinggi di negeri kita saat ini. Suatu hal yang memerlukan langkah pembenahan untuk mencapai derajat perguruan yang disebut pendidikan tinggi. Apa yang di katakan teman tersebut, disadari atau tidak, barangkali merupakan salah satu paradigma pendidikan tinggi di Indonesia saat ini.

Paradigma pendidikan di perguruan tinggi memang seharusnya diletakkan dalam tiga proses utama yaitu (1) proses pelestarian ilmu, (2) proses penciptaan ilmu, dan (3) proses penggunaan ilmu. Tanpa ketiga proses tersebut, maka pendidikan di perguruan tinggi menjadi tidak berpangkal dalam artian tidak mempunyai fondasi yang kuat untuk pengembangan, pemasyarakatan, dan penggunaan ilmu pengetahuan.

Apa yang dikatakan oleh teman di atas masih menyangkut pada proses yang pertama saja, yaitu pelestarian ilmu. Ini mempunyai arti menurunkan ilmu yang telah dibukukan kepada orang lain/mahasiswa. Inti proses ini adalah penggandaan ilmu itu sendiri. Walaupun dalam prosesnya, tidak mustahil terjadi penurunan kualitas dan pengertian dari ilmu itu karena dosen yang menurunkanya mempunyai interpretasi yang berbeda dari konsep ilmu yang diajarkan. Hasilnya pelestarian ilmu ini bergeser dan sering berubah sesuai kultur lokal.

Ekpektasi atau harapan dari teman tersebut tentunya adalah proses (2) dan (3) yang sudah lebih advance, yaitu di dalam pendidikan pada perguruan tinggi harus juga terjadi proses penciptaan ilmu dan penggunaan/aplikasi ilmu. Tentu saja ini hanya bisa berjalan jika aktor-aktornya mempunyai kapabilitas dan kemauan (termasuk dari organisasi) untuk melaksanakan proses yang kedua dan ketiga tersebut.

Sepintas bisa dilihat di beberapa universitas di negeri kita mengharapkan terjadinya peningkatan kualitas dan kemampuan finansial universitas tanpa melaksanakan proses 2 dan 3 dalam aktifitas keseharianya. Logikanya, tanpa aktivitas 2 dan 3, harapan banyak universitas untuk mandiri tidak didasarkan pada pijakan konsep yang kuat. Mungkin kondisi ini juga terjadi hampir di semua perguruan tinggi di Indonesia termasuk empat PT BHMN saat ini.

Lalu siapa yang bisa mengubah kondisi saat ini menjadi kondisi ideal atau mendekati ideal yang memenuhi ketiga proses di atas? Tentu menjadi tanggung bersama semua civitas akademika dan juga masyarakat pengguna produk pendidikan perguruan tinggi. Di samping itu juga para pejabat yang ada dalam lingkungan struktural dan pembuat konsep dan rancangan strategis pendidikan tinggi harus mempunyai konsep yang jelas. Selain itu diperlukan beberapa contoh dan best-practice di tempat yang sama sehingga konsep tersebut tidak terlihat mengambang dan tak tersentuh dalam aplikasi nyata. Susahnnya, sering semua ini perlu "orang" bukan hanya manusia saja untuk dapat menjadikanya suatau kenyataan. Kalau tidak, maka kita hanya akan tetap melihat perguruan tinggi hanya berperan di point 1 saja yaitu proses pelestarian dan penggandaan ilmu saja. Bagi teman-teman, khususnya yang bekerja di perguruan tinggi, mari kita pikirkan bersama tentang hal ini, mari kita berimajinasi untuk masa depan pendidikan tinggi yang lebih baik...."Imagination is more important than knowledge, but without knowledge we can not imagine anything".

(ditulis pada tahun 2005 - red)