Toshokan
Tidak seperti hari Jum’at biasanya, hari ini jadwal oyako e hon o kashidashi. Ibu dan anak dipersilahkan meminjam buku di perpustakaan milik sekolah.
“Bunda mau pinjam buku apa? kalau mas Izza yang ini, “ kata si sulung sambil memperlihatkan sebuah e hon berjudul jyu piki no kaeru.
“Bunda, mau pinjam yang ini aja deh.” kataku sambil memperlihatkan sebuah e hon dengan judul fuyu no ikimono zukan.
***********
Di Jepang fasilitas untuk peningkatan minat baca amat mendukung. Salah satunya keberadaan toshokan (=perpustakaan) yang tersebar di berbagai pelosok daerah. Toshokan sebagai pusat dokumentasi dan sarana baca masyarakat, memiliki beragam koleksi buku yang lengkap dan up to date. Pelayanannya pun profesional dan cepat, karena semua menggunakan sistem komputerisasi. Tak hanya buku, VCD/VHS dan fasilitas internet gratispun bisa dinikmati di perpustakaan. Gedung toshokan ada yang berdiri sendiri, ada yg menyatu dengan bangunan semacam kouminkan. Tak ayal pemandangan keramaian orang selalu menghiasi toshokan. Entah hanya sekedar pinjam buku, baca di tempat atau mengikuti berbagai macam kegiatan yg diadakan oleh sapooto senta (pusat layanan) setiap toshokan.
Peminjaman buku yang gratis, tidak dibatasi jumlahnya serta rentang waktu peminjaman yang cukup lama, kira-kira 2 minggu. Hal ini membuat toshokan menjadi alternatif hiburan keluarga yang murah dan mudah.
Tidak seperti di Indonesia, di youchien (TK) tidak ada pelajaran baca tulis. Lewat perpustakaan sekolah, sejak dini anak diajak mencintai buku. Tak hanya untuk membaca , anak diajarkan pula merawat buku. Beberapa aturan meminjam/membaca buku di pepustakaan disosialisasikan kepada anak. Dengan kesabaran para sensei, kami melihat anak-anak begitu tertib di perpustakaan. Buku yang selesai dibaca, dikembalikan sesuai klasifikasinya.
Karena interaksi dengan buku tumbuh subur, anak-anak begitu mencintai buku. Keberadaan buku yang ‘ramah’ anak (sampul hardcover, halaman buku tidak mudah robek) dan cerita yg menarik, membuat anak-anak selalu ingin melihat buku. Dengan seringnya melihat buku, timbullah minat untuk belajar membaca sendiri. Di kelas besar TK, anak rata-rata sudah pandai membaca hiragana (salah satu huruf Jepang, red ).
Bagaimana dengan minat baca di tanah air? hasil survei International Education Achievement (IEA) tahun 1992 menerangkan bahwa minat baca siswa sekolah dasar Indonesia berada di peringkat 38 sedangkan siswa SMP pada peringkat 34. Ironis…. Salah satu penyebab yang pasti adalah kurangnya interaksi dengan buku dan kurangnya fasilitas pendukung seperti perpustakaan yang memadai di setiap sekolah atau wilayah.
Sebagian orang mengasosiakan buku sebagai barang mahal. Padahal buku yang berkualitas, manfaatnya jauh melebihi harga buku tersebut. Banyaknya fasilitas mainan/hiburan instant memang membuat anak-anak semakin menjauhi buku. Di pasar tradisional dekat rumah kami, toko yang menjual VCD dan play station selalu ramai dikunjungi pelajar. Sementara di sebelahnya, toko yang menjual buku/majalah bekas, sepi dari kunjungan para calon pemimpin bangsa itu.
Alhamdulillah kini di tanah air ada kelompok masyarakat, yang concern (memiliki perhatian) untuk menumbuhkan minat baca. Sebutlah kelompok penulis Forum Lingkar Pena (FLP) atau kehadiran desa buku Kyai Langgeng di Magelang. Belum lagi pepustakaan yg dikelola perorangan di suatu wilayah.
Budaya membaca di masyarakat, tak terkecuali kalangan pelajar, memang harus digalakkan. Karena masyarakat yang gemar membaca (reading society) adalah syarat terwujudnya masyarakat pembelajar (learning society), yang menjadi salah satu ciri masyarakat yang maju dan beradab. Mari galakkan budaya membaca mulai dari keluarga . Ajaklah anggota keluarga untuk membuat pepustakaan mini di rumah.
(Ditulis pada tahun 2008 - red)
